Seni sebagai sarana pendidikan dan terapi untuk anak (1)

Salam,

Setelah lama vakum karena berbagai hal (dari mulai diterpa berbagai badai sampai koneksi internet yang putus sambung), insyaallah kami akan hadir kembali dengan tulisan-tulisan yang mudah-mudahan bermanfaat untuk teman-teman semua. Teriring doa semoga kita semua selalu didekatkan dengan Al Quran dan Penciptanya, dikuatkan dalam berbagai badai yang menerpa serta selalu ditambahkan ilmu, supaya bisa terus menghadirkan tulisan-tulisan yang bergizi untuk sumber inspirasi teman-teman semua.

Kali ini bahasan kami agak beda dari sebelumnya yang terus berkutat di wilayah al quran dan islam. Kami ingin membahas seni sebagai sarana pendidikan dan terapi untuk anak. Tentu saja tetap di wilayah pendidikan islam dan quran. Bukankah kita telah mendirikan pagar-pagarnya kemarin?

Seni bisa digunakan sebagai alat/sarana/media pendidikan. Bahkan pendidikan Islam. Misalnya saja untuk mengajarkan hitungan, bisa saja kita memakai lagu untuk mengajarkan angka dalam bahasa arab misalnya. Atau bisa juga memakai gambar untuk mengajarkan suatu ayat tertentu. Isi dan makna ayat yang berat untuk disampaikan secara dialogis, bisa dengan mudahnya masuk dengan perantaraan lagu, atau bisa dengan mudahnya masuk dengan perantaraan komik.

Seni juga bisa digunakan sebagai sarana terapi. Dengan membiasakan anak untuk mengungkapkan maksudnya lewat gambar, orang tua bisa ‘membaca’ masalah yang tak tersampaikan/tak terkatakan oleh anak, dengan memintanya menggambar apa yang dirisaukan. Anak yang dibiasakan mengkomunikasikan maksud lewat gambar ini juga bisa ‘mensublimasikan’ atau bahasa sederhananya ‘melampiaskan’ kemarahan, kegalauan, tekanan hidup, lewat gambar/nyanyi. Sehingga, meski anak sulit untuk ‘curhat’ anak bisa lebih lega setelah menggambar, atau menyanyi.

Tidak cuma itu. Dengan beberapa teknik tertentu, seni bisa dipakai untuk terapi motorik, terapi disleksia dan beberapa terapi lainnya. Ini akan kita bahas satu-satu di beberapa tulisan mendatang.

Semoga bermanfaat

*foto menggunakan lisensi Creative Common, dari unicefiran

Seni sebagai sarana pendidikan dan terapi -Musik (2)

Salam,

Musik telah dikenal banyak sebagai sarana/media pembelajaran yang sangat efektif. Dengan menyanyi misalnya, anak bisa menghafalkan serangkaian kosa kata asing dengan mudah. Bahkan, serangkaian aturan berwudhu yang diambil dari sebuah ayat, dengan senang diulang-ulang oleh anak, ketika dibuat nyanyian. Apalagi bila bergerak, biasanya anak tambah senang mengulang-ulangnya, sehingga tambah besar kemungkinan dia mengingat apa yang diajarkan tersebut.

Musik bisa melatih :

  1. keterampilan koordinasi gerak anak. Misalnya saja nyanyian wudhu, nyanyian ‘satu sepatu’ ‘mi-mi-mi’ atau ‘cingciripit’ dan lagu bermain anak lain yang membutuhkan gerak.
  2. kemampuan sosial anak, misal nyanyian perkenalan, nyanyian mama mia (melibatkan lebih dari satu anak), ular naga panjangnya dst
  3. keterampilan linguistik anak. Semua lagu dengan lirik, akan membuat anak belajar melafalkan dan mengerti liriknya, terutama kosa kata didalamnya. Maka berhati-hatilah dengan lagu-lagu yang terlalu ‘dewasa’ untuk anak, karena anak anda akan penasaran dengan makna kata yang asing didalamnya
  4. Memperkaya pengetahuan budaya anak. Ada lagu-lagu daerah indonesia yang mengenalkan budaya bangsa kita, misalkan berbagai lagu sunda, berbagai lagu aceh, berbagai lagu daerah lainnya. Atau budaya lain, bahwa manusia itu tidak homogen, tapi betapa heterogen, dengan mengajarkan lagu daerah meksiko misalnya ‘chiapanecas’ atau lagu ‘alouette’ dari kanadian french dst. Kekayaan budaya ini akan mengajarkan bahwa manusia berbeda, dan membuatnya lebih lapang menghadapi perbedaan. Sulit mengajarkan ‘innamal mu’minuuna ikhwah’ bila anak terbiasa dan hanya tahu keadaan homogen, satu pendapat, satu fikiran karena dia akan bingung dan heran dengan perbedaan, dan bahkan mungkin terbiasa menganggap perbedaan adalah suatu kesalahan dan pelanggaran

Untuk sarana terapi, musik dapat digunakan sebagai terapi untuk:

  1. Cerebral palsy. Studi klinis meunjukkan bahwa musik dan aktivitas musik memberi pengaruh baik pada proper breathing, distraktibilitas, hipersensitifitas, tingkat kekakuan/ketegangan (tension levels), memberi perasaan nyaman dan memperbaiki relasi interpersonal (schneider 1968 p 138 dalam music a way of life for the young child p 92)
  2. Spina bifida, muscular dystrophy, arthritis dan epilepsi untuk memperbaiki aktifitas motorik kasar, kontrol pergerakan dan relaksasi, dengan catatan bahwa pergerakan anak selalu harus diawasi untuk tanda-tanda kesakitan, dst. Tidak memaksa anak untuk mencapai suatu gerakan tertentu, Guru harus memberi banyak toleransi untuk keterbatasan gerak anak.Bila anak dalam keadaan sulit/kehilangan kemampuan gerak, maka berilah instrumen sederhana (simbal kecil, kastanet dst) untuk tetap membuatnya bisa berpartisipasi dalam kelompok, dan tetap menikmati gerak dan musik
  3. Speech impaired, cleft palate speech, delayed speech dan stuttering  bisa dan membutuhkan stimulasi musik dalam keseharian untuk melatihnya berbicara. Bicara dan nyanyian (speech n song) memiliki frasa, ritme dan empasis, dan keduanya memiliki rima dan repetisi. Musik mempertajam pendengaran dan membantu perkembangan keahlian/kemampuan mendengar secara fokus, yang kemudian menghasilkan kemampuan bicara yang lebih baik. Belajar bernyanyi, juga melatih kinestetik pattern dalam tenggorokan yang menjadi petunjuk bicara untuk anak dalam suatu cara (Margolin dan kuhmarker 1969 dalam music a way of life for young children p 94). Tentu fungsi relaksasi otot bicara dan vocal juga sangat membantu.
  4. Autis. Aktivitas ritmis dan musik ritmis bisa mengundang/memancing seorang anak autis keluar dari ‘cangkang’nya. Karena anak autis tampak seperti tak peduli/tak sadar akan sekelilingnya, musik menawarkan suatu jalan untuk membelah dinding pemisah ini. Sering terlihat seorang anak mengulang atau mengikuti penyanyi di TV atau di rekaman. Selalu dibutuhkan pendekatan One-to-one. Tap/ketuk bahunya/tangannya sesuai ritme sambil menyanyi. Tetapi harap diingat, bahwa perkembangan dengan anak autis biasanya amat lambat sampai suatu komunikasi dapat dilakukan.
  5. Aphasic, anak dengan kehilangan atau cacat memahami atau menggunakan pembicaraan, terlihat tertarik dan terperbaiki semagatnya  lewat musik. Lagu yang simpel dan repetitif dengan daya tarik emosi yang kuat adalah pilihan wajib untuk aphasic dan autis.  Aphasic sering menunjukkan kekakuan fisik yang dahsyat, depresi dan penarikan diri. Aktivitas gerak dan ritmis cenderung membuatnya relaks, dan memberi vitalitas pada anak-anak semacam ini.

Sebenarnya banyak juga yang bisa diberikan musik, tapi sepertinya disini cukup sedemikian. Bila ingin lebih jelas, harap membaca ‘Music the way of life for young children, bab 5, Music and the exceptional child. Disana diterangkan terapi musik untuk anak-anak cacat fisik, berkemampuan khusus seperti di atas, hiperaktif , labil secara emosional, kekakuan/rigidity, intelectually different seperti trainable mentally retarded, educable mentally recarded dst. Ada detail terapi seperti apa yang baik, mengapa baik untuk anak tersebut dan bahkan macam-macam lagu ntuk terapi masing-masing kasus.Bahkan musik untuk melatih jalan seorang tuna netra dan melatih bicara seorang tuna rungu pun ada.Harap jangan kecewa bahwa buku ini agak langka. Bila teman-teman ingin, bisa saja saya tuliskan disini secara khusus, tapi mungkin harus bersabar karena lumayan panjang. Kalau memang sangat dibutuhkan, bisa saja nanti kami upload ke group rumahqurani@yahoogroup.com docnya.

semoga bermanfaat

Seni sebagai sarana pendidikan dan terapi -Bahasa Rupa (2)



Anak yang belum bisa menggambarkan apa yang dia rasa lewat kata-kata yang gamblang, dapat didorong dan dilatih untuk mengkomunikasikan apa yang dia pikir dan dia rasa lewat bahasa rupa. Selain ini akan menjadi bekal yang hebat dalam menyalurkan ide kreatif dan lebih jauh nantinya inovasi-inovasi dalam pemikiran dia, kemampuan mengkomunikasikan ide lewat gambar ini juga bisa berfungsi sebagai sublimasi atau pelampiasan masalah buat anak. Dan dengan bahasa rupa yang sama, dapat menyampaikan apa unek-unek dia pada orang tua.Dengan demikian, bahasa rupa bisa melampiaskan atau melepaskan sebagian beban psikologis anak. Hal ini telah diterapkan dalam berbagai terapi psikologis untuk berbagai gangguan mental, misalnya saja stress, depresi, bahkan multiple personality, schizophrenia dan banyak lagi.

Gambar/lukisan/kolase dan bahasa rupa lainnya merupakan terapi komunikasi yang baik untuk anak yang tuna rungu, kurang pendengaran, delayed speech, aphatis, autis, dst masalah-masalah komunikasi. Tapi harus diingat, bahwa sekali lagi kita harus bersabar, bersabar dan bersabar dalam prosesnya. Apa yang kita harapkan terjadi, tidak akan terjadi dengan seketika bagaikan mie instant, akan tetapi butuh proses yang cukup panjang, bahkan AMAT panjang dalam kasus autisme.

Kemudian anak berkemampuan khusus (ABK) lainnya seperti Cerebral palsy yang motoriknya sangat terbatas, under intelegency dan seterusnya, juga mendapatkan manfaat yang tidak kalah banyaknya.

Untuk anak-anak usia dini, tentu saja bahasa rupa atau tepatnya gambar juga merupakan sarana yang baik untuk melatih motorik halus. Dan bisa menjadi terapi masalah motorik, seperti hiperaktifitas. Gambar juga bisa menjadi terapi untuk masalah tantrum, anak emosional, dan ‘destroyer’ istilah dimana anak sering merusak barang karena kontrol tenaga (masih masalah motorik) belum terkuasai.

Dengan pengejawantahan kurikulum SD Indonesia yang semakin berat dan banyak yang tidak memperhatikan masalah pembebanan psikologis, makin banyak anak yang stress dan depresi. Karena itu, dengan melatih anak berkomunikasi dengan bahasa rupa, maka sedikit banyak, stressing anak dapat dikurangi dan diterapi dirumah.

*foto menggunakan lisensi Creative Common, dari unicefiran

Pelatihan Rumah Qurani

Bismillaah ar-rahmaan(i) ar-rahiim(i)

Pada mulanya kami mencoba-coba metode yang dilakukan di Jamiatul Quran di Iran oleh Sayyid Mahdi Thabathabai, bagaimana jika dipergunakan di Indonesia, apakah bisa kita menciptakan lingkungan yang semacam itu sehingga menelurkan hafizh sekelas Sayyid Husain bin Mahdi Thabathabai. Dari hasil diskusi bersama-sama via email dengan grup rumah pohonku , diperoleh kesimpulan bahwa kita perlu memasyarakatkan Al Quran untuk semua, kaya maupun miskin, secara gratis. Muncullah ide ‘komikisasi’ ayat-ayat akhlaq yang bisa diakses siapa saja via website. Ide pun berkembang, dan diadaptasilah metode mengajarkan ayat akhlaq dengan (salah satunya) bahasa isyarat yang dikarang oleh Sayyid Mahdi.

Bermula dari keinginan meng-upgrade upaya pendidikan alQuran yang sudah ada selama ini (melalui TPQ atau TPA) agar lebih ‘meng-anak-anak’ atau lebih mudah disenangi oleh anak, maka lahirlah metode yang sekarang disebut Rumah Qurani. Pelatihan pun diberikan agar penyebaran metode menjadi luas, cara-cara seperti yang sudah kami jalankan (di TK Babussalam, Lab TK Quran Kopo, dsb) semoga bisa disempurnakan oleh saudara-saudara dan sahabat-sahabat seluas-luasnya. Pelatihan ini pun dilaksanakan setiap tahun di Bandung (rutin) dan insidental di kota yang siap untuk mengundang dan menjadi penyelenggara (contoh: Pekanbaru, Duri, Samarinda, Jakarta, Jogja, Solo, Banjarmasin, Selayar, Aceh, Batam, Batang, Surabaya, Malang, yang lain menyusul).

Bagaimana Al Quran atau belajar Al Quran itu menjadi menyenangkan buat anak-anak, itulah salah satu tujuan diadakannya pembelajaran dengan cara Rumah Qurani. Setiap bersentuhan dengan alQuran, kita berharap memori yang indah lah yang ada di dalam kepala anak-anak kita. Sehingga, dalam keseharian pun akhlaq dan kata-kata yang keluar adalah alQuran (aamiin allaahumma aamiin) Bisakah? Insya allah jika kita mau berusaha.

Nah, salah satu ikhtiar untuk itu adalah dengan pelatihan yang diselenggarakan oleh Rumah Qurani yang materinya secara garis besar meliputi: ke-Quran-an, ke-anak-an, dan ke-pendidikan-an.

Peserta secara garis besar akan diajak untuk memasuki dunia al-Quran (tafsir, tahsin, dan motivasi). Selain itu, akan diberikan pula wawasan mengenai psikologi anak atau pendidikan anak, untuk memperkaya persepsi dan wawasan dalam pendidikan dan pengajaran secara umum maupun secara khusus dalam kaitannya dengan al-Quran. Di samping itu pembekalan mengenai kreativitas (termasuk di dalamnya adalah mendongeng) sebagai konsekuensi logis dari upaya untuk memberikan pengajaran mengenai Al Quran yang akrab dengan anak-anak sehingga berkesan mendalam dan menjadi kenangan terindah bagi anak-anak kita. Terakhir adalah penularan metode isyarat dalam menghafalkan penggalan ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlaq Al-Quran. Materi-materi tersebut akan diramu dan dikreasikan sedemikian rupa sehingga membentuk satu kesatuan yang menjadi bekal dan metode dalam mengajarkan al-Quran kepada anak-anak kita atau murid-murid kita. Insya Allah. Pelatihan yang dirancang ini dilaksanakan dalam jangka waktu tiga hari saja. Peserta akan mendapatkan 2 sertifikat, yang pertama adalah sertifikat peserta (semua dapat), dan sertifikat kelulusan (bagi yang dinyatakan lulus atau memenuhi syarat saja).

Diharapkan, setelah mengikuti pelatihan ini peserta dapat mempraktikkan metode Rumah Qurani, mengajarkan Al Quran dengan multimetode dan multimedia, menyenangkan, dan mengesankan bagi anak-anak kita. Demikian gambaran sekilas, sangat  ringkas, mengenai materi pelatihan yang akan diberikan dalam pelatihan Rumah Qurani dan latar belakangnya. Silahkan memberikan masukan untuk memperkaya ilmu dan pengajaran kita dalam menggeluti dunia pendidikan dan pengajaran alQuran.

“Allaahumma sy-rah bi l-qur’aani shadrii

wasta’mil bi l-qur’aani badanii

wa nawwir bi l-qur’aani basharii

wa athliq bi l-qur’aani lisaanii

wa a’innii ‘alaihi maa abqaitanii

fa innahuu laa haula wa laa quwwata illaa bik(a)”

Salam!

Search
Archives